Biografi tentang sahabat ( VITIANI )

Dia Vitiani yang lahir pada tanggal 28 Maret 2001, yang biasa dipanggil Viti ,dia orang yang sangat asyik..
Dia orangnya baik banget,  kadang suka buat  orang kesel kadang juga tingkahnya yang membuat kita rindukan dia namun yang membuatku paling sayang sama dia adalah dia sama sama seperti aku adalah anak broken home korban perpisahan dari kedua orang tua ia tinggal bersama ibu dan adiknya yang baru berusia 7 tahun namun ia memiliki seorang Abang yang sudah berkeluarga dan sekarang kakak iparnya sedang mengandung anak dari abangnya, orang tuanya berpisah baru sekitar sebulan yang lalu ayahnya memilih untuk meninggalkannya demi orang ketiga jadi anak broken home itu tidak lah enak, yang sekarang menjadi kepala keluarga adalah, ibunya yang bernama Naima yang berusia 44 tahun, yang saat ini ibunya bekerja sebagai salah satu pekerja di suatu proyek, iya juga memiliki seorang adik yang berusia 7 tahun dan berjenis kelamin laki-laki yang pada saat itu adiknya sangat merindukan sosok Ayah yang telah pergi meninggalkan mereka ya sekitar 2 bulan yang lalu sebelum ayahnya pergi ayahnya hanya izin pamit pergi kerja namun sampai detik ini hanya tidak kembali ke dalam ruang lingkup mereka kesalahan terbesar yang telah ayahnya lakukan saat Siti duduk di kelas 3 SD pesan itu yang tidak bisa membuat ibunya membuka hati kembali untuk sosok ayahnya itu namun sosok Ayah tidak akan pernah pudar dalam hati anaknya, walaupun terkadang kerinduan itu sering datang tak memikirkan waktu dan tempat kerinduan itu, selalu menghampiri hati setiap anak apalagi jika ia jatuh dan rapuh oleh seorang laki-laki yang dia pikir hanyalah ayahnya yang dapat menguatkan mereka Ayah tuh adalah, cinta pertama seorang anaknya, pernah sesekali viti menceritakan sosok ayahnya kepadaku.
Ayah, kadang ada beberapa perempuan yang tidak pernah tahu bagaimana rasanya memiliki seorang ayah.
Saat aku harus membicarakan tentang Ayah, aku tidak pernah tahu apa yang harus aku katakan tentangnya. Meski aku mengenal sosok Ayahku, namun aku tidak pernah tahu bagaimana rasanya disayang olehnya. Ia telah pergi meninggalkanku dan Ibu, sejak aku belum genap berusia satu tahun. Aku hanya tahu bahwa seorang anak pasti memiliki Ayah selain Ibu, tapi aku tidak pernah tahu.bagaimana rasanya hidup bersamanya. Aku tak pernah bisa membayangkan bagaimana rasanya dilimpahi kasih sayang yang tulus darinya. Bagiku, seorang Ayah itu absurd. Aku tak pernah merindukan kehadirannya dalam hidupku, tapi aku juga tak pernah membencinya.
Aku tak pernah bisa membayangkan bagaimana kedekatan seorang anak perempuan dengan ayahnya. Bagiku, Ayah itu tak pernah ada. Bukan karena aku ingin mengingkari fitrah kehidupan, tapi karena memang kenyataannya tak pernah ada sosok Ayah dalam hidupku. Aku tak pernah memiliki sosok ia yang selalu menguatkanku di saat rapuh. Aku tak pernah merasakan kehadirannya dalam keseharian hidupku. Aku tak pernah menyicipi manisnya nafkah yang ia berikan untukku. Aku tak pernah tahu bagaimana caranya mencurahkan isi hati pada sosok bernama Ayah. Aku tak pernah merasakan bagaimana nikmatnya bermanja-manja atau bercengkrama bersama sosok yang katanya selalu kuat menahan beban apapun demi anak-anak yang mereka cintai. Karena mungkin, Tuhan tak pernah mengizinkan hal itu...
Maka dari itu aku bisa mengatakan dengan sadar, bahwa aku tidak pernah merindukannya sama sekali, tapi tidak juga membencinya. Aku tidak akan pernah bisa merindukan atau membenci seseorang yang tak pernah meninggalkan kenangan apapun dalam hidupku. Sekalipun ia adalah Ayahku…
Demikianlah, aku tak pernah bisa bercerita banyak tentang sosok yang katanya selalu dibanggakan oleh anak-anak mereka. Aku hanya bisa meneteskan air mata kala kuingat tentang dirinya. Pernahkah ia mengingatku? Mendoakanku? Memimpikanku? Pernahkah itu? Terkadang aku merasa kuat untuk mengatasi sendiri semua masalah dan beban dalam hidupku. Namun ternyata aku sadar, ada saat di mana aku sangat membutuhkannya. Aku butuh pendapatnya, aku butuh sarannya, aku butuh kekuatan darinya. Aku.. rupanya aku membutuhkan dirinya.
“Ayah, dalam keterbatasanku untuk menemuimu, aku yakin Allah selalu menjagamu di manapun dirimu berada. Terima kasih karena telah mengantarkan diriku mengenal dunia ini. Mungkin aku tak pernah tahu, bahwa ada doamu dalam setiap jejak langkahku. Mungkin akan selalu ada harapmu dalam setiap desah napasku. Ayah, aku tahu keadaan ini tak akan mungkin membuat kita bisa bersama. Aku pun juga tidak banyak mengharapkan hal itu. Tapi aku selalu berdoa semoga kita bisa bahagia dengan jalan hidup kita masing-masing. Ayah, hidup bertahun-tahun tanpa dirimu bukanlah hal yang mudah untuk kujalani. Kepergianmu telah menyisakan luka yang mendalam di hatiku. Luka yang teramat dalam hingga aku sendiri tak tahu lagi bagaimana cara mengobatinya. Kepergianmu meninggalkanku dan ibu telah menciptakan ruang traumatis tersendiri dalam jiwaku. Aku… hampir selalu takut untuk jatuh cinta karena aku takut laki-laki yang kucintai kelak akan pergi meninggalkanku juga seperti kau meninggalkan aku dan ibu.
Namun Ayah, bagaimanapun keadaanmu, tetap ingatlah aku dalam hidupmu. Selalu doakanlah yang terbaik untuk buah hatimu ini. Aku pun juga akan selalu mendoakan kesehatanmu. Di mana pun engkau berada, semoga Allah senantiasa menjagamu. Meskipun aku tak pernah merasakan kasih sayang darimu, meskipun tak pernah ada rasa sayang yang teramat dalam di hatiku untukmu, tapi engkau adalah satu-satunya sosok yang mampu membuatku menangis bila aku mengingat tentangmu.Ayah, maafkan aku yang tak pernah merindukanmu. Tapi apa kau tahu, Ayah? Aku begitu membutuhkanmu..”Ketika saya bertanya kepada dia tentang sosok ayah..Apa yang kamu ingat tentang Ayah? Menjawab pertanyaan ini, saya jadi teringat lagu Ikhsan Skuter yang berjudul “Yang Kuingat Darimu”. Sebuah lirik sederhana yang mampu menggambarkan dengan tepat gambaran saya terhadap sosok Ayah.
“Yang kuingat darimu, dirimu selalu bernyanyi di pagi dan sore hari sambil memandikan aku. Yang kuingat darimu, kau bisa membuat masakan yang enak di saat Ibu bepergian. Yang kuingat darimu, terkadang dirimu joget dan melucu agar kami semua tertawa bahagia…Topik kali ini sesungguhnya cukup berat untuk saya. Mengenang sosok Ayah adalah momen yang sangat membingungkan. Kenangan itu menyenangkan sebab saya membayangkan masa kecil yang begitu aman. Namun, kenangan itu juga menyimpan pedih, mengingat saya belum bisa bahagiakan beliau. Barangkali Ayah bukan sosok yang sempurna. Entah fisiknya yang sudah mulai melemah, atau perangainya yang terkadang terlalu keras. Namun, apa pun kondisinya, Ayah akan selalu bersikap baik-baik saja untuk tampil sempurna di depan sang anak. Dengan begitu, mereka bisa selalu mengandalkannya. Dengan segala kondisi yang kamu alami, doa adalah cara terbaik untuk menyampaikain rindu kepada Ayah. Karena, tenang saja, doa tak pernah salah alamat.
Saya belum pernah dan tidak pernah menjadi sosok Ayah. Namun, saya bisa membayangnya tebalnya ambigu yang dirasa ketika sang anak mulai dewasa. Di satu isi, ia bangga karena sang anak sudah beranjak mandiri dan bisa mengurus dirinya sendiri. Namun di sisi lain, ia pun cemas dan gelisah, sebab akan tiba saatnya sang anak akan pergi dari rumah untuk hidupnya sendiri, serta dirinya tidak “dibutuhkan lagi”.
Kalau ditanya, mungkin Ayah juga ini ada 24/7 dengan keluarga. Tapi kewajiban sebagai kepala rumah tangga tak bisa diabaikan juga. Selama ini memang sosok ibu yang digambarkan lebih dekat dengan anak. Sebab, sementara Ayah sibuk bekerja, Ibu yang selalu ada dan mengajari bicara hingga membaca. Mungkin bila ditanya, Ayah juga ingin punya kesempatan yang sama. Selalu berada di sisi anaknya dan memandunya menjadi dewasa. Namun, kewajibannya sebagai pencari nafkah harus merelakan itu semua. Sebab, kebutuhan keluarga, bagaimanapun, harus dicukupi juga. Dia juga berpesan ke saya...
Selamat dan terima kasih karena kamu bisa bersikap begitu dewasa menyikapi fakta sakitnya ditinggalkan. Doa terbaik untuk kamu dan Ibu, semoga bisa menemukan kehidupan yang senantiasa baik-baik saja, Nggak semua anak memiliki kenangan manis tentang sosok Ayah, Barangkali Ayah bagimu bukanlah sosok ideal yang digambarkan. Mungkin banyak kata-katanya yang menyakiti hatimu. Barangkali banyak dari sikapnya yang tak bisa kamu kenang, apalagi tiru. Tapi untuk sekarang, kamu bisa melakukan banyak hal-hal baik untuk membuktikan bahwa kamu tidak seperti apa yang sering Ayah katakan padamu.
Setiap perpisahan pasti ada sebab dan alasan. Sebagai anak, sudah pasti kita ingin punya orangtua yang lengkap dan tinggal satu atap. Namun, kita toh tidak pernah tahu rasanya menjadi orangtua yang dipaksa bersama untuk sang anak. Benar, terasa sia-sia jika kita menyesalkan apa yang terjadi di masa lalu, sedang perpisahan itu nggak menghalangi kasih Ayah padamu.
Sebutan Ayah tak selalu ditentukan oleh ikatan darah. Sebab sosok Ayah, bisa muncul dalam diri siapa saja, Ikhlas tidak ikhlas, setiap manusia memiliki waktu terbatas untuk hidup di dunia.
Itulah pesan yang dapat saya dengar dari Fitriani yang merupakan salah satu sahabat saya dan yang memiliki cerita hidup hampir sama seperti saya kita sama-sama menjadi anak broken home namun kita sama-sama saling kuat untuk menguatkan satu sama lainnya karena kita tahu kita masih ada adik yang harus dibanggakan yang harus dibahagiakan yang harus diberikan dosis yang lebih jika kita lemah jika kita sedih maka mereka juga akan sedih maka mereka juga akan lemah dan tidak akan bangkit jadi kita saling saling menguatkan satu sama lain agar kedepannya bisa lebih baik..
Karena semua akan indah pada waktunya...
 Terimakasih..

Komentar